Puluhan Siswa dan Guru SMPN 1 Kuala Pembuang Mengalami Diare Massal Usai Menyantap Program Makanan Bergizi Gratis (MBG)
Kuala Pembuang,MKNews — Puluhan siswa dan guru di SMP Negeri 1 Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, dilaporkan mengalami diare massal, mual, muntah, hingga demam tinggi pada Kamis (30/7/2026). Peristiwa tersebut mendera para korban usai menyantap hidangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Seruyan bergerak cepat melakukan penanganan medis serta menerjunkan tim untuk menyelidiki penyebab pasti insiden tersebut.
Dugaan sementara, gejala yang dialami Siswa dan guru disekolah dipicu oleh makanan yang disuplai oleh salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berlokasi di Jalan A. Yani, Kuala Pembuang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Seruyan, dr. Yulita Handayani, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Berdasarkan data awal dari pihak sekolah, korban terdampak mencapai puluhan orang.
"Dari data yang diberikan pihak sekolah, ada beberapa anak yang tidak masuk dengan keluhan hampir sama, yaitu mual, muntah, pusing, serta diare. Data awal mencatat hampir 90 orang terdampak, termasuk para guru," ujar dr. Yulita saat dikonfirmasi awak media, Kamis (30/7/2026).
dr. Yulita menambahkan, selain faktor konsumsi makanan, kondisi cuaca ekstrem di wilayah setempat diduga turut memengaruhi daya tahan tubuh para siswa.
"Suhu udara saat kejadian cukup panas. Hal ini kemungkinan membuat daya tahan tubuh anak-anak menurun, sehingga reaksi yang dialami tiap siswa berbeda-beda," jelasnya.
Untuk menangani kasus ini, Dinkes Seruyan bersama Tim dari Puskesmas Kuala Pembuang I telah mendirikan posko pelayanan kesehatan "Tim Gerak Cepat" langsung di lingkungan SMPN 1 Kuala Pembuang. Langkah ini diambil guna memberikan perawatan darurat dan mencegah pemburukan kondisi pasien.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Seruyan, Sarinah, menjelaskan bahwa koordinasi telah berjalan sejak informasi awal diterima dari tim Satuan Tugas (Satgas) pada Selasa malam.
"Begitu menerima laporan, kami langsung turun ke sekolah untuk memastikan kondisi di lapangan. Fokus utama kami saat ini adalah penanganan cepat agar kondisi pasien tidak semakin berat," kata Sarinah.
Untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan, petugas telah mengambil sampel makanan dari penyedia SPPG untuk diuji di laboratorium. Dinkes mencatat beberapa siswa sekolah sempat melakukan pengobatan mandiri ke dokter keluarga maupun ke puskesmas setempat sebelum posko darurat didirikan.
Hingga berita ini diturunkan, tim medis masih terus memantau perkembangan kondisi para korban, baik yang menjalani rawat jalan maupun rawat inap. Pihak berwenang mengimbau sekolah dan orang tua murid untuk tetap tenang serta tidak panik sembari menunggu hasil resmi pemeriksaan laboratorium.(Ms)