Media Semakin Berisik, Yakin Masih Terjebak Tanpa Terusik?



 .           Foto:Qory Satiti Mahanani | Mahasiswi 
Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Malang

Malang - MKNews-Peradaban digital ini telah hadir dalam keseharian kita, disukai atau tidak, nyatanya media saling berambisi, parahnya tangan-tangan nakal itu kian berkompetisi hingga berhasil memperlihatkan wajah asli dari masyarakat. Minimal masyarakat digital atau yang kerap disebut sebagai netizen, netizen bisa menjadi sample masyarakat yang asli.

Sampah informasi bertebaran secara masif tanpa verifikasi dan konfirmasi. Mereka yang beradu, malah kamu yang terprovokasi.
Membuat berita yang provokasi memang menguntungkan, apalagi jika masyarakat gampang percaya akan berita hoaks yang dapat menyesatkan presepsi masyarakat ditengah isu-isu yang beredar, media akan semakin menggoreng berita, dan boom cuan sana-sini. Faktanya berita hoaks saat ini mengalami perkembangan yang sangat cepat karena dipicu oleh perkembangan teknologi informasi, seperti yang sering terjadi di media sosial.

Hoaks merupakan informasi yang dengan sengaja direkayasa untuk menutupi informasi yang sebenarnya. Dengan kata lain, hoaks juga bisa diartikan sebagai upaya pemutarbalikan fakta menggunakan informasi yang dapat meyakinkan masyarakat, akan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya. Tujuan oknum-oknum memunculkan berita hoaks ini bermacam-macam, salah satunya ialah mengenai eksistensi atau pengakuan keberadaan diri sendiri diantara jutaan umat manusia di dunia.

Pada dasarnya media sosial memang bisa melambungkan profile seseorang dan tidak sedikit mereka bercita-cita ingin menjadi viral atas unggahan konten yang dibuatnya. Namun isi unggahan itu kadang baik atau bahkan sama sekali tidak mengindahkan kaidah-kaidah menyangkut penayangan informasi bagi publik. Menayangkan apapun dan asal terkenal saja, sementara resiko lain yang ditimbulkan baik bagi dirinya atau orang lain, diabaikan begitu saja.

Fenomena hoaks yang sering terjadi di era teknologi saat ini ibarat pedang bermata dua, dimana masyarakat memiliki kemudahan dalam mengakses berbagai macam jenis informasi di berbagai media yang menyebabkan banyak hal positif maupun negatif sebagai efek dari perkembangan teknologi. 

Berbagai macam jenis informasi yang di akses justru menjadikan masyarakat mudah tertipu dengan kabar-kabar angin alias hoaks yang keberadaannya sekarang cukup sulit untuk dibedakan, mana yang asli dan mana yang palsu. 

Hadirnya berita hoaks biasanya berisi hal negatif yang bersifat menghasut hingga berujung fitnahan. Hoaks akan masuk kedalam emosi masyarakat, dan akan menimbulkan opini negatif yang dapat menimbulkan disintergratif bangsa. 

Berita hoaks juga memberikan provokasi dan agitasi negatif, seperti mengundang kebencian, kemarahan, hasutan kepada banyak umat hingga terciptanya huru-hara, pemberontakan, dan lain sebagainya, biasanya hal ini dilakukan oleh tokoh atau aktivitis partai politik atau yang disampaikan dalam pidato yang menggebu-gebu dan berujung mempengaruhi massa. 

 Apalagi di Indonesia fenomena penyebaran hoaks ini semakin menjamur ketika kondisi politik sedang memanas, seperti pemilu yang akan dilaksanakan sebentar lagi, mungkin kita akan di bom disinformasi. Jika hal ini terus dibiarkan, mau jadi apa bangsa ini?
Kepercayaan terhadap suatu berita hoaks menjadikan masyarakat tidak cerdik dalam menerima berita tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. 

Sampai sekarang masyarakat lebih percaya dengan opini daripada dengan fakta, meskipun kadang-kadang keduanya berjalan linier atau simetris dan protagonis, tapi kenyataannya opini dan fakta berjalan asimetris atau bersikap antagonis, hal ini terjadi karena kegagalan masyarakat dalam memahami maksud dari pesan yang disampaikan. 

Menurut kaca mata psikologi, salah satu faktor yang menyebabkan tersebarnya berita hoaks yaitu masyarakat cendurung menerima mentah-mentah akan sebuah berita yang sesuai dengan opini atau sikap yang dimilikinya. 

Sehingga hal inilah yang menjadi faktor utama yang mengakibatkan semakin merajalelanya berita hoaks yang berlindung dibalik kata “kebebasan berbicara” atau Freedom of Speech melalui media maya yang biasa disebut ruang siber.
Generasi milenial harusnya tidak mudah terprovokasi, apalagi mereka yang mempunyai pemikiran kritis untuk tidak menerima mentah-mentah informasi yang diperoleh. 

Melawan hoaks memang harus dari diri kita sendiri dengan menjalankan literasi media dan cek fakatanya sendiri, bukannya langsung percaya dan share sana-sini tanpa kepastian yang pasti, minimal di grup keluarga bisa ikut berpartisipasi untuk menangkal berita hoaks. Karena satu peluru hanya mampu membunuh satu orang, namun satu berita hoaks mampu membunuh ribuan orang, mengapa demikian? Jika dilihat dari sejarahnya, berita hoaks mampu mengehobohkan dan memunculkan kekhawatiran disetiap kalangan bahkan bisa menimbulkan peperangan, genosida dan konflik yang menyebabkan perpecahan dalam suatu bangsa.

Tujuan dasar media literasi ialah mengajak masyarakat dan pengguna media untuk selalu memfilter dan menganalisis pesan yang disampaikan oleh media massa, mempertimbangkan tujuan komersil dan politik di balik suatu citra atau pesan media serta meneliti siapa yang bertanggungjawab atas pesan atau ide yang dituang seperti yang ada dalam berita. 

Literasi media menjelaskan mengenai bagaimana cara memahami, mengakses, mengevaluasi, dan memproduksi. Memahami disini maksudnya ialah bagaimana masyarakat dapat memilih jenis informasi yang mereka inginkan. Banyaknya informasi yang dengan mudah didapatkan menjadikan masyarakat harus dapat memilih dan memilih informasi sesuai dengan yang dibutuhkan. 
Setelah memilih masyarakat kemudian dapat mengakses informasi sesuai dengan yang mereka inginkan.

Mengakses yang digunakan bisa dimaknai sebagai kemampuan masyarakat dalam mencari, mendapatkan, dan mengumpulkan informasi. Akses didefinisikan baik sebagai akses secara fisik maupun pada kemampuan untuk menggunakan berbagai macam bentuk media, Akses media saat ini bukan lagi hambatan, apalagi hampir seluruh masyarakat hidup berdampingan dengan gadget. 

Akses terhadap media dapat ditemukan kapan saja dan dimana saja dan berita menjadi cepat tersebar.
Setelah informasi dianalisis sesuai dengan kemampuan personal, evaluasi dibutuhkan sebagai kemampuan untuk menghubungkan antar pesan media yang diterima dengan pengalaman. Mengevaluasi informasi berdasarkan parameter, seperti kebenaran, kejujuran, dan kepentingan dari berita yang disampaikan. Jadi, dengan mengevaluasi ini dapat menyadarkan bahwa masyarakat tetap memiliki hak prerogratif dalam memaknai pesan media untuk dirinya sendiri. 
Terakhir adalah kegiatan memproduksi. Memproduksi pesan sebagai bagian dari kreativitas pesan adalah kemampuan seseorang menyusun pesan atau ide dengan kata-kata atau suara secara efektif sesuai dengan bahasa nya sendiri yang mengandalkan ilmu komunikasi dan pemahaman. 

Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif diharapkan selalu lahir dari pola pikir di masyarakat. Masyarakat harus mampu melihat fakta yang ada dalam berita, apakah sudah memakai sumber yang memiliki kredibilitas serta memahami tujuan yang asli  dan mendasar. Dengan begitu masyarakat mampu membangun sikap kritis saat menerima pesan hoaks dan selektif ketika menerima pesan maupun berita. 

Sikap kritis harus dibangun dalam diri sehingga menjadi langkah positif agar masyarakat tidak terpengaruh maupun terprovokasi dengan segala berita yang memuat postingan yang mengandung kebencian maupun menyudutkan kelompok tertentu. 

Masyarakat harus lebih teliti dalam menerima berita hoaks dan menjadikan diri mereka sebagai salah satu penggerak dalam menangkal berita hoaks. Kita perlu menyeleksi hal apa saja yang penting dan perlu untuk dipublikasikan. 

Merubah kebiasaan pada diri sendiri dengan cara lebih bijak dalam menerima informasi kemudian menyebarkan kebiasaan baik tersebut kepada lingkungan kita. Media yang semakin berisik, yakin masih terjebak tanpa teusik? 

Oleh: Qory Satiti Mahanani | Mahasiswi
Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Malang

Komentar